Siswa SMKN 1 Korban Dugaan Malpraktek RSUD Poso Akhirnya Meninggal Dunia

2
9217

“Jasad korban  baru bisa di evakuasi ke Poso setelah di bantu oleh ambulans Partai Parindo dari Poso yang datang dengan menggunakan 2 orang sopirnya”

Kondisi korban Pendi saat baru masuk di RSUD Poso

POSO NP – Siswa SMKN 1 Km 4 Kelurahan Kawua, Pendi Lasirima (18) yang diduga menjadi korban malpraktek RSUD Poso yang sebelumnya sempat di rawat di RS Wahidin Makassar pada 4 hari lalu akhirnya meninggal dunia dan  sudah di semayamkan di kampung halamannya di Watuawu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada Rabu (19/2) kemarin.

Proses pemulangan jenazah Pendi ke kampung halamannya itu sendiri tidak berjalan mulus bahkan hampir saja terkatung-katung.

Pihak RSUD Poso yang sebelumnya hanya bersedia membantu proses keberangkatannya ke Makassar saat kembali dimintai tolong untuk menjemput jasad korban tidak bersedia memberikan ambulansnya.

“Saya sudah berusaha telepon dan minta agar bisa dibantu ambulans tapi tidak di kasih. Alasannya tidak ada direkturnya,” jelas Mira kakak korban kepada Nuansa Pos Rabu (19/2).

Mengharukan. Rekan-rekan almarhum Pendi datang melayat di rumah duka sebelum korban di semayamkan.  

Jasad korban sendiri baru bisa di evakuasi ke Poso setelah di bantu oleh ambulans Partai Parindo dari Poso yang datang dengan menggunakan 2 orang sopirnya.

“Untung ada ambulans dari Perindo yang datang dari Poso, mobil itu yang bantu kami,” ungkap Mira tak mampu menahan kepedihan hatinya.

Kondisi korban pasca di operasi di RSUD Poso.

Petaka yang menimpa siswa SMKN 1 Poso itu sendiri bermula saat korban mengalami kecelakaan dan di operasi di RSUD Poso pada April 2019 lalu.

Bukannya sembuh justru sebaliknya, pasca operasi kondisinya malah memburuk menurut dokter terjadi pembekakan dan pembusukan di bagian bekas jahitan operasi sehingga harus di operasi lagi.

Tak cukup sepekan setelah operasi, kondisinya malah menurun yang kemudian oleh tim medis menyimpulkan adanya pelengketan di bagian limpanya.

Namun setelah di operasi, diagnosa itu ternyata keliru, pihak medis tidak menemukan pelengketan yang dimaksudkan tersebut.

“Usai operasi perutnya mengalami bengkak seperti orang hamil menurut dokter ada cairan dan pelengketan di bagian limpa tapi setelah di operasi dugaan dokter itu keliru. Bekas jahitan operasi yang hanya di buka setengahnya itu kemudian di tutup kembali,” sergahnya.

Diduga karena sudah kewalahan dan khawatir terhadap kondisi Pendi yang semakin kritis pihak RSUD Poso akhirnya merekomendasikan agar Pendi di rujuk ke Palu saja.

Namun karena kondisinya yang sudah semakin memburuk sehingga rumah sakit Palu hanya menyarankan merujuk korban ke Makassar.

Sampai di Makassar Pendi akhirnya diperiksa dan dokter di sana tidak menemukan adanya cairan atau pelengketan limpa sesuai hasil diagnosa dan operasi yang dilakukan dokter di RSUD Poso tersebut.

“Hasil pemeriksaan dokter di Makassar  membantah diagnosa dokter di Poso, tidak ada pelengketan limpa sementara korban sudah di operasi, sudah di buka tutup jahitannya,” jelas Mira seperti yang sudah pernah diungkapkannya kepada Nuansa Pos sebelumnya.

Perawatan Pendi kembali di RSUD  Poso sejak bulan Desember 2019 lalu itu sendiri, sebenarnya merupakan permintaan pihak RSUD Poso yang diduga sebagai pertanggungjawaban atas malpraktek setelah ramai di beritakan di media massa.

“Sebenarnya dia sudah trauma di rawat di RSUD Poso tapi karena diminta pihak rumah sakit sehingga kami bawa kembali ke sini,” ungkap Mira kepada Nuansa Pos, Selasa (14/1) kemarin.

Pendi sendiri kata Mira kembali akan dirujuk ke Makassar, sayangnya RSUD Poso sebagai pihak yang harusnya bertanggungjawab penuh hanya bisa menyediakan fasilitas ambulans dan perawatan medis selama korban dirawat di sana.

Mira, kakak korban bersama  bukti hasil operasi adiknya.

“Katanya akan dirujuk lagi ke Makassar, pihak rumah sakit hanya bisa menyediakan ambulans dan pelayanan medis selama di rawat di Makassar sementara untuk biaya pendamping selama menjaga Pendi tidak ada,” ungkap Mira yang mengaku sudah menjual rumah untuk ongkos adiknya dan sekarang tidak punya apa-apa lagi.

Direktur RSUD Poso, Hasmar Massalindri yang sebelumnya berusaha dikonfirmasi media ini sama sekali tidak mau memberikan komentarnya. Pesan singkat yang dikirim Nuansa Pos tidak pernah dibalasnya.

Hingga berita ini dinaikan, belum ada kabar pemeriksaan hukum terhadap dugaan malpraktek yang di duga terjadi di  RSUD Poso itu. Baik kakak korban maupun ibunya hanya bisa berharap semoga kejadian serupa tidak terjadi dan menimpa terhadap pasien-pasien yang kebetulan berobat ke rumah sakit tersebut.

“Kami hanya bisa pasrah semoga hal serupa tidak terjadi pada orang lain,”  ungkap Mira pada sebuah kesempatan saat di telepon Nuansa Pos semasa masih menjaga adiknya di Makassar atau beberapa hari  sebelum adiknya meninggal dunia (NP05)

2 KOMENTAR

    • begitulah kondisi, kita tdk boleh menuduuh tapi kelihatannya ada saling intervensi dalam tubuh kekuasaan di Poso ???

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here