DPRD Semprot RSUD Anuntaloko, Rehab Dinilai Asal Tambal dan Boros Anggaran
PARIGI, nuansapos – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Sayutin Budianto, menyentil buruknya tata perencanaan di RSUD Anuntaloko Parigi.
Dia menilai rehabilitasi fasilitas di rumah sakit tersebut dilakukan tanpa perhitungan matang sehingga terkesan hanya menghambur-hamburkan anggaran.
Menurut Sayutin, lemahnya perencanaan menjadi akar dari berbagai persoalan fasilitas di RSUD Anuntaloko yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh.
Wakil Ketua 1 ini menyoroti pola perbaikan yang selama ini dilakukan cenderung bersifat sementara atau tambal sulam.
Akibatnya, kerusakan serupa terus berulang, terutama pada fasilitas dasar seperti toilet dan sistem pembuangan.
“Kita akan minta perencanaan menyeluruh dari pihak rumah sakit. Sebab selama ini di rumah sakit itu tambal sana, tambal sini. Akhirnya toilet selalu bermasalah, macet terus. Berarti ada yang salah di perencanaan,” ujar Sayutin, Jumat (1/5/2026).
Politisi senior partai NasDem menegaskan, setiap perbaikan seharusnya diawali identifikasi akar masalah, apakah bersumber dari septic tank, jaringan pipa, atau sistem lainnya.
Tanpa langkah itu, menurut dia, anggaran yang dikeluarkan berpotensi tidak efektif dan hanya mengulang pekerjaan yang sama.
“Kalau setiap saat tambal sulam, itu hanya menghabis-habiskan anggaran saja. Harus diurai dulu masalahnya apa, baru diselesaikan secara tuntas,” katanya.
Sorotan DPRD menguat setelah menerima sejumlah keluhan dari pasien dan keluarga pasien. Salah satunya terkait toilet di ruang perawatan pasien operasi yang tidak berfungsi.
Keluhan itu kemudian diperkuat melalui inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan DPRD bersama Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid, Kamis (30/4/2026).
Saat sidak berlangsung, tim menemukan pasien pascaoperasi yang memiliki keterbatasan mobilitas terpaksa dipindahkan ke kamar lain hanya untuk menggunakan toilet.
“Ada pasien operasi yang toilet ruangannya tidak bisa dipakai. Terpaksa harus digotong ke kamar sebelah hanya untuk ke toilet. Ini sangat memprihatinkan,” kata Sayutin.
Selain persoalan toilet, DPRD juga mempertanyakan efektivitas program rehabilitasi di sejumlah gedung rumah sakit yang dinilai belum mampu menyelesaikan masalah mendasar seperti kebocoran pipa dan rembesan air.
Sebagai rumah sakit berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Sayutin menyebut RSUD memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran sehingga semestinya pembenahan fasilitas bisa dilakukan lebih komprehensif.
Di sisi lain, DPRD turut menyoroti kondisi ruang bersalin yang ditemukan kosong saat sidak, padahal kebutuhan layanan persalinan di masyarakat dinilai cukup tinggi.
Diketahui, dalam sidak tersebut tim juga menemukan banyak instalasi listrik dan stop kontak rusak. Selain itu, masalah kebersihan serta kinerja petugas cleaning service menjadi catatan serius DPRD. (Pde)