Morowali

Praktek Langsung, Ratusan Pelajar dan Mahasiswa Magang di IMIP

Morowali, Nuansapos.com – Pertumbuhan industri pengolahan dan hilirisasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tidak hanya meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga menuntut sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi yang sesuai perkembangan industri.

Kondisi ini membuat hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri semakin penting. Kebutuhan industri tidak cukup dijawab melalui rekrutmen setelah mahasiswa atau siswa lulus. Pengalaman kerja, pembelajaran berbasis praktik, penguasaan standar keselamatan, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja perlu diperkenalkan sejak masa pendidikan.

Menjawab kebutuhan tersebut, IMIP bersama perusahaan-perusahaan di dalam kawasan menjalankan program pengembangan talenta melalui pemagangan. Saat ini terdapat tiga skema, yakni Magang Hub Kementerian Ketenagakerjaan, Magang Kementerian Perindustrian, serta program magang dan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

HR Operation Head IMIP, Trisno Wasito, mengatakan program magang merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pendidikan dan industri. Melalui program ini, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga memahami langsung tuntutan pekerjaan, budaya kerja, standar keselamatan, dan kompetensi yang dibutuhkan di lingkungan industri.

“Peserta magang di IMIP saat ini berjumlah 509 orang dari kampus dan SMK. Kesesuaian antara latar belakang pendidikan dan kebutuhan posisi menjadi aspek penting. Kompetensi teknis sesuai bidang keahlian tetap menjadi dasar, sementara kemampuan komunikasi, analisis, kerja sama, kedisiplinan, dan kesiapan mengikuti standar keselamatan kerja menjadi kompetensi pendukung yang dibutuhkan di lingkungan industri,” ujar Trisno, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, efektivitas program magang tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta yang diterima, tetapi juga oleh kualitas proses pembelajaran selama di tempat kerja. Karena itu, peserta perlu mendapatkan tujuan pembelajaran yang jelas, pendampingan, tugas yang relevan dengan kompetensi, serta evaluasi atas perkembangan mereka.

Untuk memperkuat kualitas tersebut, PT IMIP bekerja sama dengan Politeknik Industri Logam Morowali dan Swiss Skills for Competitiveness (SS4C). Ketiganya menggelar workshop penyusunan dokumen Rencana Pelatihan Vokasi (RPV) yang diikuti 10 pendamping magang dari IMIP.

“Melalui kegiatan ini, pendamping magang dapat mengidentifikasi dan memetakan kompetensi yang relevan untuk jabatan dan tugas peserta magang,” kata Trisno.

Penyusunan RPV menjadi bagian dari upaya membuat pelaksanaan magang lebih terarah, sehingga kegiatan peserta tidak berhenti pada pengalaman berada di tempat kerja. Program diarahkan agar bidang pendidikan peserta, kompetensi yang dikembangkan, tugas yang diberikan, pendampingan, hingga evaluasi hasil belajar saling berkaitan.

Salah satu peserta magang, Dinda Aisyah Maharani, mengatakan bahwa selama magang di Departemen HR IMIP ia langsung praktik menjalankan program rekrutmen hingga verifikasi berkas. Menurutnya, mentor yang mendampinginya mengarahkan pada solusi yang cepat dan taktis sehingga pekerjaan dapat selesai secara efisien.

“Banyak hal baru yang tidak ada di sekolah, misalnya membuat foto ID card dan sistem faceprint untuk karyawan. Ini juga pengalaman pertama saya bekerja berdampingan dengan pekerja asal Tiongkok. Sangat menyenangkan. Harapan saya, peserta magang rajin, disiplin waktu, tidak mangkir, dan selalu mencari inspirasi dari rekan-rekan di tempat kerja,” ujar Dinda.

Dengan demikian, magang diposisikan bukan sekadar tahap sebelum memasuki dunia kerja, melainkan bagian dari proses membangun kesiapan talenta. Bagi dunia pendidikan, program ini membuka ruang belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Bagi industri, kolaborasi ini menjadi cara berkontribusi menyiapkan SDM yang kompeten, adaptif, dan memahami tuntutan dunia kerja.

Selain kompetensi teknis, lingkungan industri juga menjadi ruang belajar untuk mengembangkan komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, kedisiplinan, kepatuhan terhadap prosedur, serta pemahaman budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Program magang juga membuka ruang bagi perusahaan untuk mengenali potensi talenta muda dalam situasi kerja nyata. Namun, mengikuti magang tidak otomatis menjamin pengangkatan sebagai karyawan. Peserta tetap harus menunjukkan kompetensi dan kinerja selama program, sementara kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan posisi tetap menjadi pertimbangan perusahaan. (*)

Tinggalkan Balasan

RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp