Palu yang “Pitak”, Menanti Bencana di Balik Kerakusan Emas dan Batu
SAYA sedih melihat Palu hari ini.Dulu, orang membanggakan Palu sebagai Kota Lima Dimensi.
Julukan untuk Kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, karena keunikan geografisnya yang terdiri dari lima dimensi alam: pegunungan, lembah, sungai, teluk, dan lautan.
Tapi sekarang? Dimensi itu rasanya mulai hilang. Berganti dengan pemandangan yang menyayat hati.
Kalau Anda berdiri di sebelah timur kota, tengoklah ke barat. Gunungnya gundul. Kalau Anda pindah ke barat, lihatlah ke timur. Sama saja. Pemandangannya serupa: gunung yang pitak. Alias botak.
Apa sebabnya? Satu kata: kerakusan.Mari kita bedah satu per satu. Di sebelah barat, di kaki bukit Poboya, hijaunya hutan sudah kalah oleh warna tanah yang dikeruk. Di sana ada tambang emas.
Ada perusahaan resmi di situ. Mereka punya konsesi. Tapi, data satelit bicara jujur: lahan konsesi perusahaan resmi itu yang sedang mereka olah sebenarnya kecil. Mengapa? Karena mereka pakai sistem drilling. Mengebor ke bawah. Tidak merusak permukaan secara masif
Lalu, kenapa gunungnya botak luar biasa?
Itulah ulah PETI. Pertambangan Emas Tanpa Ijin. Mereka tidak mau repot mengebor. Mereka pakai alat berat. Keruk permukaannya. Ambil tanahnya. Akibatnya? Gunungnya “telanjang”.
Sekarang kita lihat ke wilayah timur. Kawasan Watusampu sampai ke arah Donggala. Di sana bukan emas, tapi batu. Galian C.
Bedanya dengan Poboya, di timur ini hampir semua punya ijin. Legal. Resmi. Tapi hasilnya? Sama saja: penggundulan. Karena untuk mengambil batu pecah, mereka harus menguliti permukaan gunung.
Legal tapi merusak. Ilegal apalagi.
Masalahnya bukan cuma soal pemandangan yang buruk. Masalahnya adalah nyawa.
Sekarang sudah penghujung 2025. Data terbaru dari BMKG dan BPBD sudah masuk ke meja saya. Analisanya bikin merinding. Risiko bencana hidrometeorologi di Palu sedang di titik nadir.
Bayangkan: dalam dua dekade, intensitas hujan ekstrem di Sulawesi Tengah melonjak 15 persen. Ditambah lagi fenomena La Niña. Curah hujan bisa naik 20 persen di atas normal.
Para ahli sudah memberi peringatan keras. Jika hujan turun lebih dari 100 hingga 150 mm sehari, Palu dalam bahaya besar. Banjir bandang bukan lagi kemungkinan, tapi keniscayaan.
Kenapa begitu menakutkan?
Karena “pagar” kota ini sudah dirusak. Hutan di hulu sudah tidak ada. Kemampuan tanah menyerap air sudah drastis berkurang. Di Poboya, di Buluri, di Watusampu, tanahnya sudah labil. Begitu dihantam hujan deras, material tanah dan batu itu akan hanyut. Menjadi debris flow. Aliran bahan rombakan yang menghancurkan apa saja di bawahnya.
Kawasan Mantikulore dan pemukiman di sepanjang Sungai Palu kini seperti sedang menunggu waktu. Menjadi zona risiko tinggi.
Kita sering kali terlalu sibuk mengeruk isi perut bumi sampai lupa menjaga punggungnya. Sekarang, ketika langit mulai murung di akhir tahun 2025, kita baru sadar: gunung yang pitak itu tak lagi bisa melindungi kita.
Hutan bisa kita tanam kembali, tapi waktu dan nyawa yang hilang tak mungkin diputar lagi.
Semoga Palu tetap terjaga. Meski dimensinya kini mulai luka. Kabarselebes.id