Rapidtest Mencekik Leher Bikin Rakyat Tambah Sengsara
PALU,Nuansapos.Com – Tidak hanya mengancam jiwa, kehadiran virus Corona di Indonesia juga bikin perekonomian masyarakat morat-marit, terpuruk, mati suri bahkan menjadi bangkrut.
Virus misterius yang entah darimana asal muasalnya ini secara berangsur bahkan disinyalir sudah menjadi bisnis sejumlah oknum petugas Covid yang berjaga di wilayah Perbatasan.
Buktinya seperti yang menimpa Fertin Magdalena Sidaluwu penjual Tahu antar wilayah Palu-Kolonodale. Wanita usia 47 tahun berKTP Kolonodale namun tinggal menetap di Palu ini pada Senin (1/6) kemarin malam oleh petugas Covid-19 di Perbatasan Tawaeli diminta membayar “ongkos lewat” sebesar Rp 350 ribu.
Namun karena tidak mau membayar dia akhirnya dipaksa putar balik dan disarankan mengurus Rapidtestnya sesuai daerah asalnya.
Atas kejadian ini Fertian mau tidak mau harus menempuh kembali jalan yang sudah dilaluinya yakni sejauh 380an Km.
Di Sulawesi Tengah sendiri biaya Rapidtest sudah berubah menjadi beban dan momok baru bagi para pelaku perjalanan terutama bagi para sopir dan masyarakat berekonomi lemah yang hendak melintas sebuah wilayah perbatasan Provinsi, Kabupaten dan Kota misalnya. P
Parahnya, informasi tentang standar atau biaya melakukan Rapidtest bagi sebagai syarat melakukan perjalanan terkesan ditutup-tutupi.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Renny Lamadjido yang berusaha dikonfirmasi Nuansapos.Com tidak bersedia memberikan keterangannya.
Pesan singkat yang dikirim melalui WhatsAapnya Selasa (2/6) sore tadi, walaupun sudah dibacanya namun tidak bersedia dibalasnya.
Dari keterangan yang diperoleh lewat sejumlah sumber, pengurusan surat keterangan plus Rapidtest di Ibu Kota Provinsi ini tergolong tinggi dan mencekik leher yakni berkisar diangka 750 ribu rupiah.