Sulteng

IMIP, LADANG REZEKI DAN SEKOLAH BAGI RIBUAN PEKERJA

NUANSA POS – Di jantung Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) ibarat sebuah “universitas kehidupan”. Bukan hanya karena di sana berjejer pabrik dan mesin raksasa pengolah nikel yang tak pernah berhenti berdetak, tetapi juga karena ribuan anak muda lokal belajar, tumbuh, dan meniti karier dari nol hingga mencapai posisi-posisi penting.Kisah Sahrul Jaya bisa menjadi salah satu contohnya.

Pemuda Desa Solonsa, Kecamatan Witaponda, itu dulu hanya seorang lulusan SMK yang sempat minder di hadapan tenaga kerja asing (TKA) yang terlihat lebih senior dan berpengalaman. Namun, alih-alih tenggelam dalam rasa rendah diri, Sahrul memilih menyalakan obor semangatnya sendiri. Dari kru konveyor Divisi Rotary Kiln, ia menapak perlahan, setahap demi setahap, hingga dipercaya sebagai supervisor.

“Sepulang dari Tiongkok, November 2024 saya diangkat jadi supervisor sampai sekarang,” ucapnya bangga.Bagi Sahrul, IMIP bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga ruang untuk belajar disiplin, bahasa, hingga kepemimpinan.

Ia bahkan sudah menuntaskan sertifikasi HSK 4 bahasa Mandarin dan dipercaya menjadi jembatan komunikasi antara pekerja lokal dan TKA.Kisah lain datang dari Dirjo Purwanto, pria Desa Emea, Witaponda. Ia memulai karier sebagai operator dump truck, kini menjabat Wakil Manajer Departemen Bijih Nikel PT Logistik Sumber Daya (LSDY). Bagi Dirjo, kepemimpinan bukan sekadar memberi instruksi, melainkan juga memastikan timnya bekerja tanpa beban mental.

“Sebagai pemimpin, saya itu mendapat tekanan dari atasan, juga dorongan dari bawahan. Kalau tidak sabar, konflik muncul,” katanya. Dengan 2.580 orang di bawah koordinasinya, Dirjo berusaha menjaga suasana kerja tetap sehat agar potensi insiden bisa ditekan.Angka yang BicaraBukan hanya kisah personal, data pun bicara. Per Mei 2025, jumlah tenaga kerja di kawasan IMIP mencapai 85.423 orang.

Yang menarik, 93 persen di antaranya berasal dari Pulau Sulawesi, dengan 31 persen atau 26.445 orang berasal dari Sulawesi Tengah. Kabupaten Morowali sendiri menyumbang lebih dari 15 ribu pekerja. Angka ini seperti denyut nadi yang semakin kuat setiap tahunnya dari 35 ribu karyawan pada 2020 hingga melonjak lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun.

Di balik pertumbuhan itu, tersimpan dampak nyata: lapangan kerja yang luas dan terbuka untuk berbagai latar belakang pendidikan. “Hari ini, di berbagai sektor sudah banyak posisi yang diisi oleh orang-orang kita (tenaga kerja Indonesia). Sudah sepenuhnya mereka yang mengerjakan,” ujar Head of HR and Training PT IMIP, Achmanto Mendatu.

Lebih dari Sekadar Bekerja Namun kesejahteraan karyawan bukan hanya soal gaji dan jabatan. IMIP dan para tenant-nya juga menyediakan fasilitas tempat tinggal atau mess karyawan dengan kapasitas tampung hingga 16.000 orang. Layaknya sebuah kota kecil, mess ini dilengkapi sarana olahraga, tempat laundry, hingga bioskop.

Semua itu demi memastikan para pekerja bisa beristirahat dengan nyaman, sekaligus menjaga produktivitas tetap terjaga.Tak hanya soal kenyamanan, hak-hak karyawan pun dijunjung tinggi, termasuk bagi perempuan. Lidya Eka Saputri, operator hoist crane, membuktikan bahwa pekerjaan mengoperasikan mesin seberat puluhan ton bukan monopoli laki-laki.

Ia bahkan merasakan kemudahan cuti haid dan cuti melahirkan. “Jika aturan tenaga kerja hanya 3 bulan, di sini kami diberikan tambahan 2 bulan. Jadi total 5 bulan lamanya bisa istirahat setelah melahirkan,” ujar Dedy Kurniawan, Media Relations Head PT IMIP.Cerita Lidya bukan pengecualian.

Agnes Priska Adelaide dan Indriani, dua pekerja perempuan di sektor berbeda, sama-sama menegaskan lingkungan kerja di IMIP jauh dari diskriminasi. “Laki-laki bisa, maka perempuan juga bisa,” tegas Indriani.Menjahit Masa DepanSeperti sebuah mesin besar yang hanya bisa berjalan jika tiap roda gigi berputar serasi, IMIP menjaga keseimbangan antara produktivitas industri dengan kesejahteraan karyawannya.

Dari kesempatan belajar bahasa asing, fasilitas mess layak, hingga cuti melahirkan lebih panjang daripada aturan negara, IMIP mencoba menunjukkan bahwa industri bukan sekadar pabrik penghasil nikel, melainkan juga “penjahit masa depan” bagi puluhan ribu keluarga.Dalam setiap cerita pekerja lokal yang sukses naik jabatan, dalam setiap angka pertumbuhan tenaga kerja, dan dalam setiap kebijakan yang menyejahterakan, tersimpan satu pesan sederhana: IMIP tidak hanya membangun pabrik baja, tetapi juga membangun harapan.

Penulis : BAYU A. MONTANG, SH

Tinggalkan Balasan

RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp