Populasi Lansia Meningkat, Pemda Sulteng Siapkan Rumah Singgah
Kaper BKKBN Sulteng melakukan senam bersama komda lansia.(F-nila)
PALU, NP- Mengantisipasi pertumbuhan angka jumlah lanjut usia (lansia) di Sulawesi Tengah (Sulteng), Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian baru atau membuat konsep baru terhadap penanganan lansia. Salah satunya membuat program pemberdayaan Lansia.
Dalam kaitannya dengan program pemberdayaan Lansia, Pemerintah juga harus mempersiapkan lansia agar tetap sehat dan aktif, menyediakan tempat yang layak bagi para lansia seperti konsep kota ramah lansia dan layanan umum untuk lansia, serta menyusun cara-cara baru agar bagaimana para lansia bisa menjadi lansia yang produktif,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Mari Ernawati, dalam satu kesempatan yang diselenggarakan BKKBN Sulteng, di Jazz Hotel (4/11/2020).
Dihadapan para pengelola Bina Keluarga Balita (BKL) dan kader BKL Proyek Prioritas Nasional (Pro PN), Erna menyebutkan bahwa data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) di Tahun 2020, populasi lansia Sulteng diprediksi telah mencapai 8,42 persen pada tahun 2020, yang sebelumnya, tahun 2019, hanya sebanyak 8,15 persen dari total penduduk Sulteng.
Data pada 2019, lanjut Erna, ada 5 provinsi yang memiliki struktur penduduk tua dimana penduduk lansianya sudah mencapai 10 persen, yaitu: DI Yogyakarta (14,50 persen), Jawa Tengah (13,36 persen), Jawa Timur (12,96 persen), Bali (11,30 persen) dan Sulawesi Barat (11,15 persen).
Dengan populasi lansia yang terus bertambah, membuat Indonesia memasuki aging population, yaitu suatu kondisi yang mana proporsi penduduk usia lanjut meningkat pesat. Karena itu, nasib kelompok rentan ini harus diperhatikan.
Dijelaskan, Aging population mulai terasa jika jumlah lansia mencapai 10 persen. Populasi lansia sekarang sudah 9,6 persen. Ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun pada 2045, yang sering digaungkan sebagai Indonesia Emas, sesungguhnya diprediksi akan mulai melonjaknya populasi lansia, yaitu 19 persen.
Kepala Sub Bidang Bina Ketahanan Balita, Anak, dan Ketahanan Keluarga Lansia (BKB, Anak, dan KKL) Perwakilan BKKBN Sulteng, Sakkirang, dalam laporannya mengatakan, pada tahun 1960-an terjadi ledakan penduduk (baby boomer).
“Baby boomer tersebut kini memasuki usia tua atau lanjut usia (lansia). Artinya, baby boomer akan menyebabkan meningkatnya jumlah lansia,” katanya.
Dia menambahkan bahwa seiring meningkatnya jumlah lansia maka Bkkbn mempunyai program lansia tangguh dengan tujuh dimensinya, yaitu dimensi spiritual, dimensiu intelektual, dimensi fisik emosional, dimensi sosial kemasyarakatan, dimensi profesional, dan dimensi vokasional dan lingkungan.
Selain itu, ada konsep pendampingan perawatan jangka panjang untuk lansia dengan melakukan kontrol kesehatan rutin, kehidupan rohani, pemenuhan nutrisi pada lansia, tidur yang cukup dan nyenyak, melakukan senam otak, menjaga kebersihan badan termasuk gigi dan mulut, melakukan rehabilitasi bagi lansia yang membutuhkan, bersosialisasi dengan masyarakat termasuk dengan lansia lainnya, melakukan kegiatan sesuai minat dan hobi termasuk kesenian serta melakukan kegiatan yang sesuai dengan budaya di mana tinggal. (NP)