Medan Rumah Begal

0
669

Oleh: Sagita Purnomo

DI bulan Juli 2019 ini se­tidak­nya ada dua tindak kriminal jalanan yang men­cor­eng nama baik Kota Medan (yang me­mang sudah buruk citranya) di mata inter­nasional. Beberapa wisatawan asing (asal Itali dan Prancis) menjadi korban pe­rampokan/penjam­bretan saat ber­wisata di kota yang saat ini dipimpin duet maut Dzulmi Eldin-Akhyar Nasution. Yang lebih mema­lukan lagi, peristiwa pen­jambretan itu terjadi di siang hari di ruas jalan protokol dekat rumah dinas pejabat pula.
Peristiwa pertama menimpa 4 orang (sekeluarga) warga negara Prancis menjadi korban perampokan di Jalan Cip­to, saat tengah berwisata mengen­darai becak motor pada Rabu (10/7). Saat me­lintas di belakang Rumah Dinas Gu­bernur Sumatera Utara, tiba-tiba dua pria yang mengendarai sepedamotor lang­sung me­rampas barang (handphone dan ka­mera polaroid) milik Wisman malang tersebut. Peristiwa kedua dialami Betty Fran­cesco, wisman asal Italia yang menjadi korban penjambretan pada Rabu (17/7) malam di Jalan Candi Biara, Me­dan. Pelaku terdiri dari tiga orang pria yang mengen­darai dua unit sepeda motor sukses merampas satu unit smart­phone dari tangan Betty. Kedua kasus ter­­sebut saat ini telah dilaporkan dan masih dilakukan penyelidikan oleh Polresta Medan.
Perampokan terhadap wisman ter­se­but menjadikan Pemko Medan dan pihak kepolisian harus menanggung malu karena tidak dapat menjalankan tugas utamanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Bagaimana bisa lokasi jalan protokol yang sangat strategis dan patut “diprioritaskan” keamanannya justru menjadi lokasi rawan. Apalagi yang menjadi korban adalah warga negara asing, tentu sangat disesalkan. Memang kejahatan dapat menimpa siapa saja kapan saja dan di mana saja, namun semua itu harusnya dapat diantisipasi dan dicegah jika aparat keamanan sigap dan menjalankan tupoksi dengan sebaik-baiknya.
Budaya?
Sejak dahulu kala, Kota Medan memang terkenal akan aksi kejahatan jalanannya. Begal, becak hantu, maling, copet, jambret, hipnotis, rampok, meru­pakan kejahatan jalanan yang hampir setiap hari terjadi di kota ini. Masih ting­gi­nya angka pengangguran dan tingkat ke­mi­s­kinan, kecanduan miras dan nar­koba ditambah dengan lemahnya penga­wa­san atau tindakan antisipasi dari apa­rat keamanan, menjadi faktor marak­nya aksi kriminalitas di Kota Medan. Miris­nya lagi, mayoritas pelaku kejaha­tan jalanan tersebut adalah para pemuda usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Para pemuda yang harusnya melakukan kegiatan produktif justru menjadi pelaku kejahatan. Kondisi miris ini dengan jelas menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara kecakapan para pemangku kepentingan dengan tingginya tingkat kriminalitas jalanan.
Berdasarkan data yang diliris Polres­ta­bes Medan, menyebutkan bahwa aksi keja­hatan jalanan seperti pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan dan pencurian kendaraan ber­motor di Kota Medan masih marak se­lama tahun 2018. Untuk kasus pen­cu­rian dengan kekerasan seperti begal dan perampokan yang meresahkan masya­rakat selama 2018 tercatat ada 305 kasus, pencurian kendaraan bermotor tercatat ada 1.242 kasus. Sementara kasus pencurian dengan pemberatan seperti pembobolan rumah ada sebanyak 1.171 kasus.
“Untuk itu, Polrestabes Medan ke de­pan tetap melakukan kegiatan keama­nan dan ketertiban masyarakat serta me­ning­katkan penekanan kejahatan jala­nan,” kata Kapolrestabes Medan, Kom­bes Pol Dadang Hartanto (detiknews.com)
Hampir setiap hari berita tentang kejahatan jalanan, terutama begal selalu menjadi hidangan utama media masa di Medan. Semakin hari begal kian ganas dalam menjalankan aksinya, bahkan mereka tak lagi sungkan untuk melukai korban demi mendapatkan barang incarannya. Seperti peristiwa yang belum lama ini terjadi, tepatnya di dekat underpass Titi Kuning dan kawasan Jalan Asia. Aksi begal terekam kamera penga­was dan viral di media sosial. Dalam video tersebut terlihat komplotan pelaku begal dengan leluasanya mencegat kendaraan korban dan merampasnya tanpa perlawanan. Korban hanya bisa pasrah membiarkan begal membawa kabur keretanya.
Kondisi Medan yang mendukung (jalan sepi dan gelap), sikap bringas be­gal yang tidak sungkan melukai korban, ditambah dengan nyaris tidak adanya pe­nga­wasan dari aparat keama­nan, mem­buat begal dapat menjalankan aksinya dengan mulus. Video aksi begal yang viral tersebut setidaknya dapat menjadi pembelajaran sekaligus peringatan untuk warga kota akan maraknya begal.
Penindakan
Maraknya kejahatan jalanan, ter­uta­ma begal di Kota Medan belakangan ini lang­sung mendapat respon dari kepo­lisi­an setempat. Seperti yang dilakukan oleh
pe­tugas Kepolisian Sektor (Polsek) Medan Timur yang melakukan penya­maran total menjadi emak-emak untuk memancing para komplotan begal keluar dari sarangnya. Dengan me­nya­mar sebagai emak-emak berdaster dan menggunakan kerudung yang berkeliaran mengendarai motor matic di malam hari, petugas sukses me­ringkus tiga orang begal, yakni Ipan Ardiansyah alias Gopal (24), M Ferdiansyah alias Popoy (17) dan Sopan Yohansyah alias Yoyo (21) di Jalan Perkebunan, Pulau Brayan, Medan Perjuangan.
Penyamaran ini dilakukan petugas setelah mempelajari cara main para pelaku yang kerap menargetkan korban perempuan. Kapolsek Medan Timur, Kompol M Arifin, menga­takan, setelah mendapat laporan korban tim Pegasus Polsek Medan Timur melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Namun setelah be­berapa hari tim belum berhasil meng­identifikasi para pelaku. “Saya dan Tim Pegasus berpikir keras mencari cara untuk memancing para pelaku keluar dari persembunyiannya. Kita akhirnya mendapat ide untuk mela­kukan penyamaran dengan berperan sebagai emak-emak. Personel kita kenakan pakaian daster dan jilbab. Ternyata kerja keras dan rencana matang ini membuahkan hasil. Kom­plotan begal keluar dan berusaha untuk membegal personel yang me­nya­mar,” jelasnya. (Merdeka.com)
Sebagai warga Medan, penulis berharap kepada Pemko dan Kepo­lisian untuk bersinergi dalam rangka menjaga dan meningkatkan keaman­an. Segarang apapun penindakan dilakukan terhadap pelaku kejahatan jalanan tanpa diiringi dengan antisi­pasi/pencegahan tentunya tidak akan cukup untuk meredam aksi krimina­litas yang kian marak ini. Membangun pos-pos keamanan dan meningkatkan intensitas patroli di lokasi-lokasi rawan harus segera dilakukan sebagai tindakan pencegahan pertama. Se­lanjutnya tim pemburu begal yang ada di setiap Polsek harus “dihidupkan” kembali dan dimak­simalkan lagi perannya untuk terus berpatroli di malam hari. Intinya semakin sering polisi menggunakan kendaraan dinas­nya untuk berpatroli, maka akan mem­persempit ruang gerak begal untuk beraksi.
Di lingkungan masyarakat, Pemko Medan dapat memaksa camat dan lurah untuk menyisikan anggaran dan membentuk tim patroli keamanan yang dikomandoi oleh kepling se­tempat. Agar lebih efektif masukan petugas Satpol PP untuk aktif ber­patroli menjaga keamanan di tingkat lingkungan. Pasalnya, ada banyak petugas ronda/satpam yang secara swadaya dibentuk dan dibayar warga, justru menjadi dalang dan turut membantu maling beraksi di ling­kungan/komplek.
Walikota dapat memberi teguran kepada pejabat yang wilayahnya sering terjadi/rawan kejahatan ja­lanan, sehing­ga Pak Camat, Lurah dan Kepling akan bersungguh-sungguh bekerja untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di wilayah kerjanya masing-masing. Dengan adanya sinegritas dan peran aktif seluruh pihak dalam menjaga keamanan mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan dan lingkungan, diharapkan dapat mengurangi tingkat kejahatan jalanan, sehingga Medan tidak lagi dicap sebagai rumah begal.***
Penulis adalah alumni UMSU


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here