Prihatin, Angka Pernikahan Anak & Angka Perceraian di Sulteng Peringkat Lima Nasional

0
84

Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng Maria Ernawati.(F-ist)

PALU, NP – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebutkan kasus perceraian di provinsi ini sangat tinggi secara nasional. Dari sisi jumlah, Sulteng berada di peringkat kelima tertinggi se Indonesia.

Demikian halnya kasus pernikahan di bawah 20 tahun, Sulteng juga berada pada rangking 5 nasional, ungkap Kepala Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulteng, Dra. Maria Ernawati, MM, ditemui disela launching PPKS Kencana, Minggu (08/11/2020)

Erna, begitu ia akrab disapa, dalam kesempatan itu menyebut, tingginya angka cerai di Sulteng disebabkan karena tingginya angka pernikahan usia dini.

“Tingkat perceraian di Sulteng yang juga masuk sepuluh besar, atau rangking empat,”katanya.

Hal ini menurutnya perlu diantisipasi bersama. Karena itu pihaknya mendorong adanya integrasi program seluruh stakeholder terkait dalam menekan angka pernikahan dini sekaligus perceraian tersebut.

Lintas sektor terkait yang perlu secara bersama melaksanakan program itu antara lain, tokoh agama, masyarakat, adat dan Forum Generasi berencana (GenRe).

“Kami telah bersepakat untuk bergerak bersama menangani hal itu,”ujarnya.

Pengintegrasian program itu akan didorong melalui program “Patujua” atau menuju tujuan bersama. Integrasi program lintas sektor terkait ini nantinya akan disusun dalam sebuah Peraturan Gubernur (Pergub) Sulteng.

“Ini menjadi salah satu program untuk memberi sosialisasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), sebagai langkah untuk melakukan tindakan pencegahan,”tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi BkkbN Sulteng, dr. Ocha, dalam talkshow ini mengulas tentang dari sisi kesehatan mengenai dampak pernikahan dini yang dapat m ofengakibatkan resiko kanker serviks.

“Jika berhubungan di bawah umur 18 tahun beresiko kanker serviks, karena usia itu masih memiliki mulut rahim yang masih terbuka keluar. Dari segi kesehatan reproduksi dan psikologi, usia yang siap untuk menikah yakni, 20 sampai 35 tahun,” jelasnya.

Menyambung hal itu, Erna kembali meminta para ‘skipers’ untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Yaitu melalui perencanaan reproduksi yang sehat, dan perlunya keterlibatan orang tua dalam memberikan pemahaman kepada remaja terkait pendewasaan usia perkawinan

“Selain resiko kanker, pernikahan dini ancamannya itu perceraian, termasuk kasus KDRT juga tinggi. Nah itu semua ring satunya adalah orang tua,”demikian Erna(NP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here