Senator ART Soroti Insiden PETI Desa Buranga Kabupaten Parimo

0
136

ART “Jangan Backup Oknum Yang Terlibat, Tangkap Dan Bongkar Kasusnya”

PALU, Nuansapos.com – Peristiwa bencana tanah longsong, yang terjadi di lokasi penambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, (Parimo) Sulteng, medio 24 Februari 2021 menuai tanggapan serius dari anggota DPD RI dr. Abdul Rachman Thaha SH.MH. (ART).

Senator muda andalan Dapil Sulteng ini, juga turut prihatin dan sangat menyayangkan atas terjadinya insiden tersebut, apalagi hingga menelan korban nyawa, yang jumlahnya terbilang tidak sedikit.

“Dengan adanya korban jiwa dilokasi penambangan ilegal seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab, ini yang menjadi pertanyaanya. Kalau ada opini atau isu – isu yang berkembang yang mengatakan masyarakat yang menyewah sendiri alat-akat itu, buktikan itu. Sehingga bisa dikembalikan persoalan ini pada masyarakat itu sendiri, tapi kalau bukan masyarakat yang menyewah, ada sesuatu disitu yang hadir, itu yang seharusnya bertanggung jawab. Jangan di backup, bongkar persoalan ini.” tegas senator ART, saat memberikan keterangan pers pada sejumlah pewarta, diselah kegiatan Reses di Kabupaten Parimo, pada hari Rabu (03/03/2021).

Menjawab pertanyaan dari salah seorang awak media, “apa harapan yang akan disampaikan kepada Kapolda Sulteng”, ART dalam jawabanya meminta Kapolda Sulteng harus bertindak tegas dan benar-benar menjalankan amanah UU NO 2 tahun 2002 dan berpihak pada rasa keadilan, sehingga akan tercipta situasi yang kondusif. Daerah pun tidak dirugikan dengan hadirnya penambangan ilegal.

ART juga dengan tegas mengatakan bahwa dirinya akan mengawal tuntas para aktor dibalik PETI, yang beroperasi di wilayah Kabupaten Parimo.

“Kalau ada yang mau menambang, harus melalui mekanisme yang ada. Legalkan semua itu, mekanisme tidak selalu sulit. Itu Harahan saya kepada bapak Kapolda Sulteng.” imbuhnya.

Atas insiden di lokasi PETI Desa Buranga, ART mengatakan bakal membawah persoalan ini dalam sidang paripurna dan mengundang langsung Kapolri, dalam rapat kerja bersama, sebagaimana kewenangan yang diberikan kepada Komite II DPD RI.

Melansir dari laman VOA Indonesia, longsor terjadi pada Rabu (24/2), pukul 18.55 WITA. Saat kejadian, ada 23 penambang yang sedang mendulang emas. Dari jumlah itu sebagian besar berhasil menyelamatkan diri, tapi beberapa di antaranya tertimbun longsoran yang terjadi secara tiba-tiba.

“Meninggal dunia enam orang dan sudah berhasil dievakuasi di hari pertama tiga orang, di hari kedua tiga. Kemudian yang masih dalam pencarian satu orang,” papar Kapolres Parigi Moutong AKBP Andi Batara Purwacaraka, Kamis (25/02/2021).

Dari pemantauan VOA Indonesia pada Kamis (25/2) siang, empat ekskavator dikerahkan untuk mengeruk material pasir bercampur kerikil di sekitar lubang besar yang longsor sehari sebelumnya. Menurut informasi, longsoran berasal dari timbunan material abekas galian dari lubang yang diperkirakan memiliki kedalaman sekitar enam meter.

Tim penyelamat melanjutkan pencarian korban pada Jumat (26/2). Para petugas mengalami kesulitan mencari korban karena terhambat genangan air di dasar lubang dari rembesan air.

Rembesan dari sungai yang ada dibelakang, ini merembes terus, sedangkan pompa yang berjalan itu baru satu,” kata Andi Sembiring, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah, kepada para wartawan.

Butuh Ketegasan Pemerintah

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah, Aris Bira, mengatakan kepada VOA bahwa tanah longsor yang memakan korban jiwa di Buranga itu bisa dicegah, bila aparat pemerintah dan penegak hukum dengan tegas segera menutup kegiatan PETI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here