Setelah Menyelesaikan Proyek Raksasa Di Sulawesi Tengah, Manusia Purba Austronesia Kemudian Berpindah Ke Sumatera

PALU,NUANSAPOS.COM– Hingga kini keberadaan patung-patung megalitik yang tersebar di Lembah Bada, Napu dan Behoa Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah masih misterius.

Selain usia material dan Ras Autronesia sebagai pembuatnya belum ada satupun pihak termasuk para Aerkolog yang berani memastikan untuk apa dan mengapa patung-patung purba itu di buat.

Selain tujuan pembuatannya reposisi atau penempatan patung-patung purba yang tersebar di 3 lembah di Sulawesi Tengah itu juga masih menjadi pertanyaan besar dan tanda tanya bagi para ahli.
Dari pantauan media ini, sebagian dari patung-patung itu di reposisikan di tengah-tengah padang ilalang atau savanah sementara sebagian lainnya di pinggiran hutan Taman Nasional Lore Lindu.

Meskipun ada asumsi yang mengatakan, patung-patung purba berusia 2500 hingga 5000 tahun Sebelum Masehi (SM) di Sulawesi Tengah sebenarnya adalah simbol ke’Dewa’an bagi masyarakat Purba saat itu, namun banyak pihak yang meragukannya.

Namun demikian dari Talkshow online Indonesia Hiddden Heritage (IHH) yang menghadirkan DR Retno Susanti dari Universitas Sriwijaya, Kepala Balai Perlindungan Cagar Budaya Gorontalo, Mohammad Natsir dan Kepala Dinas Provinsi Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal Sarkomi dan Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah I Nyoman Sriadijaya dan Spesialis Tour Megalitik Guide Sulawesi Tengah, Deddy Todongi Minggu (24/10) siang tadi menyimpulkan.

Kemungkinan besar pembuat patung-patung purba yang ada di Sulawesi Tengah dan di Sumatera meskipun bukan pada periode yang sama namun pembuatnya berasal dari Ras yang sama yaitu dari Ras Austronesia.

Dalam pemaparannya DR Retno Susanti mengatakan, dia banyak menemukan Arca-arca berbentuk manusia, hewan, lukisan batu bergores, dolmen dan lempung batu saat penelitiannya di sejumlah tempat di Sumatera.
Sementara pemandu wisata khusus megalitikum Dedddy Todongi dari Sulawesi Tengah mengatakan.Patung-patung hasil karya manusia purba yang tersebar di Lembah Bada, Napu dan Behoa ditemukan antara 60 hingga 200 KM dari pinggiran laut.

Terdapat kesamaan bentuk dari temuan tinggalan purba yang ada di Sumatera dan Sulawesi Tengah seperti batu berlubang, dolmen dan sejumlah tinggalan lain yang ada di Sumatera.
Namun demikian Deddy dalam penjelasannya mengatakan, arca-arca atau tinggalan purba yang ada di Sumatera jauh lebih modern dibanding tinggalan-tinggalan purbakala yang ada di Sulawesi Tengah.

Melihat perbedaan ini Deddy mengasumsikan, patung-patung purba yang ada di Sumatera jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan yang ada di Sulawesi Tengah.

Kalau di Sulawesi Tengah tidak ada satupun patung yang dilengkapi dengan kaki. Rata-rata tambah Deddy hanya setengah badan terdiri atas kepala, wajah, mata, hidung, dagu tanpa mulut, dua pasang lengan tangan lengkap dengan 5 jari di sebelah kiri kanannya ditambah simbol gender atau kelamin masing-masing.


Namun demikian tambah Deddy ada pula sejumlah patung manusia yang tidak menggambarkan alat kelamin seperti patung Loga di lembah Bada dan di sebagian lembah Napu dan Behoa.

“Kesimpulannya Ras Autronesia purba ini setelah berhasil membangun proyek raksasanya kemudian berpindah atau bermigrasi ke Sumatera. Untuk mencapai Sumatera tentu membutuhkan waktu yang sangat panjang bagi manusia pada periode 2.500 hingga 5.000 tahun Sebelum Masehi sehingga tidak mengherankan, jika kemudian patung-patung yang dibangun Ras Austronesia ini kelihatan lebih modern bila dibanding yang ada di Sulawesi Tengah,” urai Deddy menutup literisasinya.

Terhadap asumsi Deddy Todongi, Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal Sarkomi mengatakan.
Asumsi Deddy Todongi itu ada benarnya. Aufa juga yakin ada keterkaitan dan hubungan antara pembuat patung-patung purba yang ada di Sulawesi Tengah dan Sumatera.
Untuk mengkoneksikan asumsi tersebut Aufa mengundang Deddy Todongi untuk datang ke Sumatera Selatan.