Diduga Tak Mampu Capai Target Pekerjaan, Pelaksana Proyek Huntap Pombewe Terpaksa Berbohong

0
572

Warga : ” Soal pembayaran upah para pekerja  menjadi fakor lain yang menyebabkan terhambatnya pembangunan yang digarap oleh Yayasan itu.Karyawannya  lari karena tidak dibayar”


SIGI NP – Proyek pengadaan bangunan perumahan Hunian Sementara (Huntap) sebanyak 1.094 unit yang digarap  Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi sejak tahun 2019 belum ada satupun yang bisa ditempati para korban terdampak bencana 28 September 2018 silam.

Hasil tinjau lapangan media ini langsung ke lokasi, belum bisanya ditempati perumahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal salah satunya karena memang belum ada satupun dari bangunan itu yang rampung 100 persen sehingga dapat ditinggali  calon penghuninya.

Walaupun  sepintas lalu, beberapa dari deretan bangunan yang sudah berdiri itu kelihatannya sudah layak untuk ditempati namun ketika di cek kedalam ternyata masih terdapat banyak kekurangan didalamnya.

“Kalau dari luar memang kelihatannya sudah ada beberapa yang bisa ditinggali tapi coba masuk kedalam, rumah itu belum lengkap.Ada yang belum ada kamar mandi dan Wcnya juga belum dilantai.Pokoknya  banyak kekurangannya,” sergah  sejumlah warga sekitar yang sering mondar-mandir ke lokasi pekerjaan tersebut kepada Media ini Rabu (11/3).

Akan halnya, Manager Buddha Tzu Chi Indonesia, Rahmat yang sedianya hendak dikonfirmasi media ini tidak sedang ditempat namun dari Pengawas lapangannya, Imron mengatakan. Belum rampungnya pekerjaan itu karena adanya sejumlah masalah yang menjadi kendala selama dia ditempatkan melakukan pengawasan di areal pembangunan hunian tetap tersebut.

Menurut Imron, masalah air dan pematangan lahan yang akan digunakan sebagai dudukan bangunan juga ikut menjadi persoalan utama yang menurut dia secara tidak langsung ikut menghambat proses pembangunan infrastruktur ribuan rumah hunian yang akan ditempati oleh korban terdampak bencana 28 September 2018 tersebut.

“Selain air, pematangan lahan juga jadi kendala penghambat proses pembangunan di Pombewe ini,” ujarnya.

Imron saat memberikan penjelasan kepada wartawan Selasa (10/3) 

Sayangnya setelah di crosscheck kembali pernyataan Imron itu ternyata bohong sebab soal pengadaan air lewat suplai kendaraan Tanki tidak pernah absen ditalangi oleh Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Sulawesi Tengah sebagai Satuan Kerja (Satker) kegiatan seraya menunggu pengadaan air yang hingga saat ini sedang diupayakan di wilayah itu.

Soal pematangan lahan yang disebutkan Imron itu juga tidak benar sebab pematangan lahan di lokasi itu sudah disiapkan oleh BPPW namun merekalah yang belum bisa mengisinya dengan bangunan yang sedang mereka garap di lokasi tersebut.

Dudukan toliet (closet) yang masih terparkir di lokasi kantor pelaksana proyek dan  belum terpasang di perumahan Hunian tetap Pombewe.

“Dari tahap awal 500 unit rumah yang sedianya sudah harus mereka rampungkan baru sekitar 200 an unit yang mampu mereka selesaikan.Tak sampai disitu saja, soal pembayaran upah para pekerja juga ikut menjadi fakor lain yang menyebabkan terhambatnya pembangunan yang digarap oleh Yayasan itu.Karyawannya banyak yang lari karena tidak dibayar,” ujar sumber kepada media ini (NP05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here