Hukum KriminalNasionalSultengViral

Patung Hitam di Pintu Masuk Tentena Kembali Ramai di Media Sosial


Poso,Nuansapos.com – Setelah sebelumnya sempat tenggelam, persoalan 2 buah patung yang berdiri tegak dipertigaan masuk kota Tentena, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, saat ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial Facebook.

Patung berwarna hitam pekat dengan posisi berdiri di atas 2 buah tugu berwarna kuning-hitam itu dinilai sangat merusak estetika dan sama sekali tidak sesuai dengan replika Nicolaas Adriani dan Albertus Christian Kruyt yakni dua missionaris Belanda yang seharusnya digambarkannya.

Beragam kecaman terhadap kehadiran patung menyeramkan di kota religi itupun saat ini mulai bermunculan.

Seperti yang sudah-sudah, para Warganet berharap, patung yang jauh dari kemiripan itu segera dibongkar dan diganti sesuai dengan Tokoh yang harusnya digambarkannya.

“Ganti” tegas Asyer Tandapi, salah satu Warganet, Selasa (1/2/2020).

Dua Tokoh Adriani dan Kruyt yang seharusnya digambarkan oleh patung tersebut merupakan 2 Misionaris asal Belanda yang datang ke Tentena dan pioner pendidikan bagi masyarakat di Poso.

Keduanya kemudian membuka sekolah-sekolah dan mengajarkan masyarakat lokal cara membaca dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.

Gambar perencanaan awal patung Kryut dan Adriani (Ft : int)

Adriani adalah seorang Teolog dan Penginjil namun lebih dikenal sebagai Penerjemah bahasa yang diutus dari Nederlands Bijbelgenootschap (Lembaga Alkitab Belanda).

Adriani lahir di Oud-Lo osdrecht, Holland Selatan pada 15 September 1865 dan meninggal di Poso pada 1 Mei 1926,

Jenazahnya dikuburkan di pemakaman umum di Lawanga, Poso.

Sama halnya dengan Adriani, Kruyt juga adalah seorang Penginjil. Beliau lahir di Mojowarno, Jawa Timur pada 10 Oktober 1869.

Pada tahun 1877, Kruyt dikirim ke Belanda untuk mengambil pendidikan misionaris.

Tahun 1890 ia kemudian kembali ke Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia saat itu) dan ditempatkan di Gorontalo.

Dari Gorontalo oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap, Kruyt dikirim lagi untuk membuka Pos Misionaris baru di Poso tepatnya di Pantai Selatan Teluk Tomini.

Daerah misi yang ia rintis hingga tahun 1920-an terus menyebar melalui dataran tinggi dan pegunungan hingga ke Teluk Bone di Selatan.

Pada tahun 1932 Kruyt akhirnya kembali ke Belanda dan meninggal di Den Haag pada Januari 1949.

Kruyt dianggap sebagai salah satu Ahli Teori, Misionaris dan Etnografer terkemuka pada periode awal abad ke-20.

Misi yang dipimpinnya di Poso dan Sulawesi Tengah diakui sebagai salah satu keberhasilan terbesar misi Injil di Hindia.

Karyanya tentang etnografi dan penginjilan—khususnya di Sulawesi Tengah—dianggap sebagai sumber informasi yang “luar biasa”.

Buku yang ditulisnya bersama Nicolaus Adriani, berjudul De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden-Celebes ( Toraja yang berbicara Bare’e dari Sulawesi Tengah), dianggap sebagai salah satu publikasi terbaik di bidang etnologi, dan merupakan sumber utama penelitian para Ilmuwan dan Peneliti.

Tinggalkan Balasan

RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp