“Solidaritas Mengalahkan Pandemic Covid-19”

0
580

MAKASSAR NP – Wabah mematikan corona atau virus Covid-19 telah menjadi perhatian banyak orang termasuk para pengamat dan akademisi dan rohaniawan.

Tak mengherankan jika kemudian berbagai opinipun muncul kepermukaan dengan satu tujuan ingin menarik perhatian publik sekaligus saling mengingatkan.

Bhawasannya virus ini sangatlah berbahaya dan perlu dilawan bukan hanya secara perorangan namun juga harus dilakukan secara bersama dan bahu membahu antara satu  pihak dengan pihak yang lainnya.

Salah satu opini seperti itu juga ikut dikemukakan oleh akademisi asal Poso, Kurniawan Ch Tumbade, S.Th (Mahasiswa pasca sarjana STT Intim Makassar).

Berikut buah pikirannya yang perlu disimak dan kiranya bisa menjadi perhatian bersama :

BEBERAPA bulan terakhir dunia sedang berjuang melawan pandemic covid-19.

Virus ini kabarnya berawal dari Wuhan China hingga merembet ke seluruh negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Banyak spekulan mengatakan,  virus ini disebabkan dari hewan yang diperdagangkan di pasar-pasar tradisional di Wuhan yang tidak steril.

Selain itu adapula  spekulasi lain yang mengatakan, virus ini disebabkan karena kebocoran laboratorium tempat pembuatan senjata rahasia di China, sementara spekulasi lain menyebutkan. Virus ini merupakan buatan atau rekayasa Negara Amerika (teori konspirasi).

Saya sadari, spekulasi-spekulasi yang berkembang seperti ini tentunya tidak memiliki dasar yang dapat dibuktikan sehingga semakin memperkeruh keadaan dalam menghadapi peristiwa pandemic covid-19 khususnya bagi kita di Indonesia. 

Namun yang terpenting saat ini adalah bagaimana orang perorang atau kita secara bersama-sama dapat mengalahkan pandemic covid-19 ini.

Mungkin salah satu cara untuk memecahkan suatu masalah adalah dengan belajar dari fakta empiris (pengalaman).

Olehnya saya mengajak marilah kita belajar dari pandemic-pandemic yang sebelumnya telah terjadi (walaupun) mungkin secara medis dalam setiap virus atau penyakit berbeda cara pendekatan untuk mengatasinya, akan tetapi ada hal yang dapat kita pelajari dari pandemic sebelumnya.

  1. Flu Spanyol
    Flu Spanyol (juga dikenal sebagai pandemi flu 1918 adalah pandemi influenza mematikan yang luar biasa. Berlangsung dari Januari 1918 hingga Desember 1920, virus ini menulari 500 juta orang sampai sekitar seperempat populasi dunia saat itu. Jumlah korban diperkirakan sekitar 17 juta hingga 50 juta, dan mungkin setinggi 100 juta, menjadikannya salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia. Cara penyebarannya yakni dKetika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, lebih dari setengah juta partikel virus dapat menyebar ke yang terdekat. Faktor besar dalam terjadinya flu ini di seluruh dunia adalah peningkatan perjalanan. Sistem transportasi modern memudahkan prajurit, pelaut, dan pelancong sipil untuk menyebarkan penyakit ini. Gelombang kedua pandemi 1918 jauh lebih mematikan daripada yang pertama.
  2. Dengue
    DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus. Virus dengue pertama kali muncul pada 1950an di Filipina dan Thailand kemudian menyebar pada wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Sebanyak 40 persen populasi di dunia tinggal di mana DBD adalah endemik.

Tiap tahun, dengue menginfeksi 50-100 juta orang. Tingkat kematian visrus ini terhitung jauh lebih rendah daripada virus-virus lain yakni 2,5 persen.

Namun jika penanganannya tidak tepat, tingkat kematian bisa mencapai 20 persen.

Sejak 1960-an, semakin banyak orang yang terkena demam dengue. Penyakit tersebut mulai menimbulkan masalah di seluruh dunia sejak Perang Dunia Kedua.

Penyakit ini umum terjadi di lebih dari 110 negara. Setiap tahun, sekitar 50–100 juta orang terkena demam dengue.

Dari virus ini ada hal yang baik yang dilakukan bahwa semua kalangan bersolidaritas untuk melawan virus ini yakni ketika para ahli medis mengembangkan obat-obatan untuk menangani virus secara langsung dan masyarakat pun melakukan banyak usaha untuk membasmi nyamuk dan saling tolong menolong. 

 

  • Ebola

 

Outbreak ebola pertama kali terjadi di Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada 1976. WHO mencatat antara 1976-2013 ada sebanyak 24 outbreak meliputi lebih dari 2ribu kasus dan lebih dari separuhnya meninggal.

Outbreak terbesar terjadi di Afrika Barat pada Desember 2013-Januari 2016 dengan lebih dari 28ribu kasus dan sekitar 11 ribu kematian.

Menurut Muhlberg, strain virus ditemukan bervariasi pada korban meninggal.

Satu strain, Ebola Reston, tidak membuat seseorang sakit. Namun strain Bundibugyo tingkat kefatalannya mencapai 50 persen, kemudian strain Sudan mencapai 71 persen.

Cara penyebaranya juga lewat budaya, yakni ketika budaya masyarkat yang memegang jenasah dan menciumnya sehingga terjangkit, ketika juga masyarakat sering melakukan perkumpulan-perkumpulan sehingga dengan cepat terjangkit.

Dalam peristiwa pandemic ini Amerika menjadi leader untuk bersama dan bersama melawan pandemic ebola.

Menurut saya dalam peristiwa pandemic covid-19 yang saat ini digumuli kita dapat sedikit belajar dari ketiga pandemic yang sebelumnya telah menggemparkan dunia, bahwa pandemic virus itu menyebar dengan cepat lewat interaksi sosial masyarakat.

Masyarakat cepat terjangkit ketika berada diruang public seperti terminal bus, fasilitas umum, dan yang lainnya.

Dalam mengatasi pandemic sebelumnya semua kalangan dalam bidang masing-masing bekerja sama untuk melawan virus tersebut baik itu ahli medis maupun masyarakat.

Negara-negara di dunia juga saling membantu untuk mengatasinya karena mempunyai keyakinan bahwa ini adalah pandemic global sehingga dibutuhkan juga solidaritas global.

Menurut Yuval Noah Harari, solidaritas global sangat dibutuhkan saat ini untuk mengatasi pandemic covid-19 dengan cepat. Amerika yang sebelumnya menjadi leader sekarang turun dari jabatannya dan terpuruk.

Lantas siapa yang menggantikan Amerika untuk menjadi leader dalam menghadapi pandemic global covid-19?

Jawabanya adalah solidaritas global. Ketika solidaritas global melawan covid-19 tidak terwujud maka pandemic covid-19 akan bertahan dalam waktu yang cukup lama. Untuk hal ini, tentunya kita tidak menginginkan hal itu terjadi. 

Solidaritas lokal juga sangat dibutuhkan, masyarakat Indonesia diajak untuk secara bersama-sama ikut memerangi pandemic covid -19, caranya sederhana saja yakni dengan serius mengikuti setiap anjuran dari Pemerintah seperi menjaga kebersihan lingkungan, cuci tangan serutin mungkin, menghindari perjumpaan-perjumpaan dengan banyak orang, tinggal dan beridam diri dirumah, dan lain sebagainya.

Melawan Covid-19 pastinya membutuhkan peran semua orang dan bukan secara sendiri-sendiri, karena ketika solidaritas lokal kita tidak serius  melakukanya niscaya keadaan bukannya akan semakin semakin membaik malah sebaliknya akan semakin memburuk dan akhirnya akan berlangsung lama dan membuat banyak jiwa terbuang, mati secara sia-sia.

Sumber : Kurniawan Ch Tumbade, S.Th (Mahasiswa pasca sarjana STT Intim Makassar)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here