Tabir Misteri Patung Purba Di Tiga Lembah Sulawesi Tengah

PALU,NUANSAPOS.COM – Sulawesi Tengah merupakan industri penghasil peninggalan purba berupa patung-patung megalitik yang tersebar di 3 lembah yakni di Lembah Bada, Napu dan Behoa / Besoa.

Diperkirakan patung-patung purba tersebut di bangun oleh Ras Austronesia sekitar tahun 2.500 hingga 5.000 tahun Sebelum Masehi (SM).

Sayangnya hingga saat ini belum ada satupun pihak termasuk para ahli yang berani mengambil kesimpulan tentang asal-usul patung-patung batu tersebut sehingga keberadaan patung-patung ini masih menjadi sebuah pertanyaan besar dan membuat keberadaan patung-patung ini semakin misterius.

Berdasarkan analisa lapangan sejak 24 tahun silam.
Masing-masing patung yang ada di Sulawesi Tengah memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Baik dari segi ukuran, bentuk, wajah dan bola mata serta simbol jenis kelaminnya.

Meskipun ada beberapa patung yang tidak dilengkapi dengan alat kelamin namun sebagian besar dari patung-patung itu dilengkapi dengan simbol dan tipikal yang menggambarkan jenis kelamin pria dan wanita.

Patung-patung yang tersebar di 3 lembah di Sulawesi Tengah sendiri meskipun dari sisi dan bentuknya menggambarkan tipikalisnya sebagai manusia namun tidak ada satupun yang dilengkapi dengan kaki.

Rata-rata dari patung itu di pahat dalam bentuk setengah badan yang terdiri atas Kepala, Mata, Hidung, Telinga dan 2 buah Bola Mata serta Tangan dengan jumlah jari masing-masing 5 di kiri dan 5 di sebelah kanannya serta simbol genre atau kelaminnya.
Namun demikian tidak satupun dari patung-patung itu yang memiliki mulut laiknya seorang manusia.

Patung purba tertinggi di Sulawesi Tengah hanya terdapat di Lembah Bada, tingginya mencapai 4 meter.

Diperkirakan Patung Palindo merupakan patung terakhir yang di buat oleh manusia purba pada periode itu sebelum pergi dan menghilang tanpa jejak dari Sulawesi Tengah.
Hingga kini belum ada orang yang berhasil menemukan kuburan massal ataupun peralatan-peralatan yang digunakan manusia purba untuk pembuatan patung-patung tersebut.
Koloni manusia purba ini usai menyelesaikan proyek raksasanya itu seolah-olah lenyap dan pergi tanpa mau meninggalkan jejaknya.

Hingga litertur ini diturunkan belum ada satu ahlipun yang dapat memastikan kemana perginya dan mengapa koloni manusia pembuat patung-patung megalitik di Sulawesi Tengah itu pergi. Tanpa meninggalkan jejak, selain meninggalkan hasil karya mereka berupa patung-patung yang tersebar di 3 lembah seperti yang telah di uraikan di atas.

Selain membuat batu-batu berupa patung-patung berupa wujud manusia, koloni Ras Austronesia yang pernah tinggal di Lembah Bada, Napu dan Besoa Sulawesi Tengah juga ikut membuat patung-patung lain.

Antara lain berupa Sumur batu yang dalam bahasa lokalnya di sebut Kalamba dan Dolmen, serta Patung-patung Hewan berwujud serupa Kerbau , dan Monyet di Lembah Bada dan Katak serta Burung Hantu di Lembah Besoa.