Adanya Bukti Rekaman Asusila, DAS Dan VT Diduga Telah Bohongi Publik

0
352

Novran : “Hanya orang gila saja yang bilang itu editan”

POSO, Nuansapos.com – Terdakwa perkara pencemaran nama baik  Novran Oa Pakinde menilai Bupati Poso non aktif Kolonel Marinir (Pur), Darmin A. Sigilipu (DAS) diduga kuat telah melakukan pembohongan publik terkait bukti rekaman dugaan asusila.

Pasalnya, dalam rekaman dugaan asusila tersebut secara terang benderang disebutkan pembicaraan antara Vivin Tungka dan suaminya Diki Kondanglimu berlangsung via telepon.

Rekaman itu sendiri, saat ini telah diterima oleh majelis hakim sebagai bukti dalam persidangan dan telah diperdengarkan saat dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Poso baru-baru ini.

Sidang perkara pencemaran nama baik DAS dengan terdakwa  Novran, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Poso dengan agenda pembelaan, pada Selasa (13/10/20), pekan ini guna mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh terdakwa. Namun sayang, para saksi yang dimaksud belum sempat hadir dalam sidang tersebut.

Ini merupakan sidang keempat yang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim Haryanta, SH, MH yang didampingi dua anggota majelis. Yaitu, Deni Lipu dan Muh. Syakrani. Dimana dalam sidang tersebut Novran sebagai terdakwa tanpa didampingi kuasa hukum, memutarkan beberapa rekaman percakapan antara Vivin Tungka dan Diki Kondanglimu.

“Saya sudah memperdengarkan beberapa rekaman kepada Majelis Hakim, rekaman tersebut adalah pembicaraan antara Vivin Tungka dan Diki Kondanglimu, salah satu rekaman tersebut durasinya 1.33.34 (satu jam tiga puluh tiga menit tiga puluh empat detik) yang merupakan rekaman pembicaraan melalui telepon,” terang Novran.

Dalam rekaman tersebut ucap Novra, ada beberapa kali menyebutkan nama Pak Faidul. Kuat dugaannya adalah nama Kadis PU Kabupaten Poso. “Dugaan saya Pak Faidul yg dimaksud adalah Faidul Keteng Kadis PU Kabupaten Poso, ini  jelas di menit  pertama dan di menit ke delapan  belas, Diki Kondanglimu berkata seperti ini,” akunya.

Novran juga mengatakan, Vivin Tungka dalam rekaman itu terang-terangan mengatakan sedang menunggu telepon dari suaminya. “Karena Pak Faidul suruh saya tunggu telepon dari kau, karena katanya kau mau minta rujuk to. Ternyata saya tunggu-tunggu telepon dari kau, yang dibahas bagaimana caranya menyelamatkan itu beliau,” tutur Novran, mengutip dari rekaman yang diperdengarkan di depan hakim.

Novran juga menambahkan, siapapun yang mendengar rekaman tersebut akan mengakui bila rekaman tersebut menjadi bukti kuat bahwa dugaan asusila antara DAS dan VT benar adanya, bukanlah sebuah fitnah.

“Hanya orang gila saja yang bilang itu editan. Bagaimana mau editan, rekamanannya berjam-jam ada tiga bagian., panjang, suaranya asli,” tutur Novran.

Bahkan kata Novran, saat ini dirinya masih mengantongi sejumlah rekaman lain. “Yang semuanya itu akan saya serahkan kepada hakim dan selanjutnya rekaman tersebut akan menjadi milik publik agar masyarakat bisa menyimpulkan sendiri apa yang terjadi sebenarnya, karena ini bukan sekedar menyangkut urusan pribadi, tetapi ini menyangkut sorang kepala daerah, dimana standar moral kepala daerah itu diatur dalam Undang-Undang,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Poso non aktif DAS juga tegas membantah. Sebagaimana diketahui,  sebelumnya DAS dan Vivin Tungka juga telah melakukan konferensi pers dan membuat peryantaan kalau skandal ini tidak benar.” Semuanya ini adalah fitnah,” ujar Vivin.

Vivin Tungka juga memberikan klarifikasi bahwa rekaman yang beredar merupakan hasil percakapan dari pertengkaran persoalan rumah tangga antara dirinya bersama suaminya pada tahun 2017 silam.

Dia juga menjelaskan, rekaman yang beredar tersebut adalah hasil editan yang merupakan rekaman pertengkaran antara dirinya dan suaminya saat itu, yang terjadi didalam rumahnya dan bukan rekaman melalui telephone.

“Siapa yang dijatuhkan disini? Yang menjadi korban di persoalan itu, saya. Itu percakapan rumah tangga saya. Itu sudah diedit dan seakan-seakan, itu rekaman melalui telephone. Padahal itu percakapan langsung secara berhadapan antara saya dengan suami saya di rumah, saat kami bertengkar,” imbuhnya

Diketahui perkara dugaan pencemaran nama baik Bupati Poso non aktif DAS ini berawal dari adanya postingan dari seorang saksi terkait prestasi Pemerintah Daerah kabupaten Poso, yang masuk pada urutan ke 14 dalam data kawasan ekonomi menengah.

Sayangnya, secara singkat terdakwa melalui akun media sosialnya (FB) justru membalas postingan tersebut dengan kalimat yang menyudutkan Bupati non aktif DAS serta terkesan menuduh dengan hal-hal yang bersifat vulgar dan asusila.

Terkait sidang selanjutnya, sebagaimana disampaikan lsalah seorang anggota Majelis Hakim, Muh. Syakrani yang juga merupakan juru bicara di PN Poso, sidang selanjutnya akan digelar pada pekan depan dengan agenda mendengarkan saksi meringankan yang diajukan oleh terdakwa.

Terdakwa sendiri dalam perkara ini diancam pasal pidana dalam pasal 45 ayat 3, undang undang RI, nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan undang undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here