MorowaliSulteng

Aktivitas Tambang PT.CBP di Lalampu Dikeluhkan, Selain Legal Standing Tak Jelas Berpotensi Timbulkan Longsor

Morowali NP
Aktivitas tambang PT.Cetara Bangun Persada (CBP) yang berada di Desa Lalampu Kec.Bahodopi Kabupaten Morowali Prov.Sulteng mendapat banyak keluhan dari sejumlah warga dan para pengguna jalan.
Pasalnya, kelengkapan dokumen PT.CBP dari aspek hukum (Legal Standing) diragukan dan tidak jelas. Selain itu, lokasi PT.CBP berada persis di area seputaran pemukiman warga Desa Lalampu serta bertetangga langsung dengan jalan raya Trans Sulawesi tanpa jaga jarak.
Tengok saja, dari Aspek hukum belum ada Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB) dan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB), PT.CBP sudah berani melakukan pengiriman dan penjualan Ore Nikel keluar Morowali.
Padahal RKAB dan SKAB, merupakan syarat sebuah perusahaan tambang untuk melakukan pengiriman atau penjualan Ore Nikel sesuai Peraturan Mentri (PERMEN) ESDM No.7 Tahun 2020.
Begitu pun soal ijin terminal, masih tanda tanya termasuk ijin penyeberangan jalan raya serta ijin lingkungan lainnya, kuat dugaan legalitasnya belum jelas.
Selain itu, PT.CBP dituding tak pernah melakukan sosialisasi kepada warga soal aktivitasnya, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan dan kebinggungan serta keresahaan dikalangan warga.
Demikian keterangan yang diperoleh media ini dari sejumlah warga Desa Lalampu yang meminta namanya tak disebutkan, Kamis (24/09/2020).
Di akui warga beberapa tahun silam perusahaan yang mengantongi IUP dengan luasan berkisar 199 Ha itu, pernah beraktivitas tetapi kurang lebih 5 tahun sudah berhenti, yang mana kala itu infonya PT.CBP sedang bermasalah.
Namun, begitu muncul kembali langsung melakukan aktivitas dan pengiriman ore nikel. bahkan saat ini sedang melakukan pemuatan di jeti-nya untuk pengiriman kali kedua dengan tongkang yang diperkirakan berkapasitas 7.500 Metrik Ton.
“Kami heran bisa-bisanya PT.CBP langsung beraktivitas tanpa sosialisasi terlebih dulu kepada warga apalagi penanggung jawabnya berbeda, ini yang membuat kami warga binggung dan resah karena merasa di abaikan,” Terang warga.
Begitu pun soal tenaga kerja, PT.CBP tidak memprioritaskan warga lokal tetapi memboyong langsung pekerja dari luar Desa Lalampu.
“Kalau pun ada warga Lalampu dipekerjakan hanya bagian buruh kasar saja, padahal banyak warga Lalalmpu yang punya skill termasuk oparator alat berat,” Keluh warga.
Senada keresahan yang dirasakan Mahdi salah satu warga pengguna jalan, merasa prihatin dengan keberadaan PT.CBP karena lokasi tambangnya persis di area pemukiman warga, yang suatu waktu bakal dapat menimbulkan longsor.
Kemudian, yang paling memiris hatinya adalah keberadaan lokasi tambang PT.CBP tepat berada dibibir jalan raya Trans Sulawesi, yang dapat mengancam keselamatan para pengendara roda dua maupun roda empat.
Terbukti, selama ini pada setiap musim hujan, jalan Trans Sulawesi tersebut tertimbun lumpur ore karena longsoran dari atas gunung bekas galian tambang PT.CBP.
“Setiap musim hujan pak, jalan ini selalu tertimbun lumpur ore dan permukaan lautan disekitar ini berubah warna, saya tau karena hampir hari-hari saya melintas di jalan ini,” Cetusnya sambil menunjuk ke arah laut dan jalan dimaksudkan.
Penanggung jawab PT.CBP Israd yang berusaha dikonfirmasi wartawan media ini belum berhasil, kendati didatangi base camp sebagai tempat kantornya namun tak berada ditempat.
“Pak Israd ada ke lokasi pak, lama itu baru turun tapi di tunggu aja apa biasanya juga nggak lama turun ke base camp ini,” Ucap salah satu perempuan dilokasi base camp tersebut yang tak mau menyebutkan namanya.
Di hubungi lewat pesan Whats App (WA) di No.081356936xxx, Israd mengaku masih sibuk karena sedang mengantar tim dari kantor DLH Morowali.
“Saya lagi mengantar team dari dinas LH kab morowali,” Tulisnya.

Tinggalkan Balasan

RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp