Ancaman Rektor Untad Menutup SMP-SMA Labschool Langgar UUD 45

0
1124

“Mendikbud Diminta Ambil Tindakan dan Copot Rektor Untad dari Jabatannya”

PALU NP – Sikap congkak dan sewenang-wenang kembali dipertontonkan Rektor Untad, Prof Dr Ir Mahfudz MP.


Putera Palopo yang saat ini menjabat sebagai Rektor Untad ini, dinilai telah banyak mengambil  keputusan-keputusan yang dinilai sangat kontroversial. Bahkan acamannya untuk menutup dua satuan Pendidikan, yakni SMP dan SMA Labschool sebagaimana diberitakan oleh  salah satu media lokal, dapat dianggap sebagai  bentuk kesombongan yang berlebihan.

“Posisi Rektor adalah bersifat sementara, sementara keberadaan satuan Pendidikan SMP dan SMA Labschool adalah Lembaga Pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa hingga waktu yang tak terbatas”

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun wartawan Nuansa Pos baik dari penggiat pendidikan maupun orangtua siswa yang kebetulan anaknya pernah sekolah di Labschool tersebut.

Menurut mereka, kecongkakan Prof Mahfudz yang merasa bahwa Untad itu miliknya harus segera diakhiri.

Untad tidak menginginkan pemimpin yang congkak tapi membutuhkan pemimpin yang punya karya dan inovatif, bukan yang sudah ada dihilangkan begitu saja. Terlebih kata mereka, hingga memasuki tahun kedua kepemimpinannya, Rektor itu belum melakukan apa-apa di Universitas yang saat ini dipimpinnya tersebut.

Muslim salah satu warga yang mengaku memiliki keluarga yang sedang menempuh Pendidikannya di SMA Labschool menila.  Ancaman Rektor untuk menutup dua satuan pendidikan hanya karena dia di demo oleh siswa yang memperjuangkan hak-hak guru-gurunya yang dipecat secara sepihak oleh Rektor itu merupakan sebuah perbuatan yang melanggar UUD 1945.

Situasi demonstrasi di Rektorat Untad oleh siswa SMA Labschool yang menolak pemecatan gurunya oleh Rektor Mahfudz MP beberapa waktu lalu.

Siapapun yang menjadi biang tidak mendukung proses mencerdaskan kehidupan bangsa, harus dijatuhi sanksi berat. Oleh karena itu, kepada Redaksi Media ini Muslim meminta  agar perbuatan Prof Mahfudz yang ingin menutup dua satuan Pendidikan Labschool itu harus segera dilaporkan ke Mendikbud.

Muslim juga mendesak  agar Rektor Untad segera di copot dari jabatannya. “Jika ada tikus di lumbung pangan, bukan lumbungnya yang dibakar tapi tikusnya yang ditangkap,” ujar Muslim mengibaratkan tambahnya lagi “Labschool ini adalah Lembaga Pendidikan yang harus terus didorong untuk memberi layanan pendidikan dasar menengah. Bukan malah mau di tutup apalagi hanya karena didasarkan oleh kebencian terhadap pada oknum pendidik yang ada di SMP dan SMA Labschool tersebut,” tukasnya

Sebagaimana diberitakan Nuansa Pos sebelumnya, Rektor Untad tersebut dilaporkan ke Presiden dan Mendikbud karena melakukan pemecatan terhadap guru-gurunya yang beragama Kristen. Akibat pemecatan itu, siswa SMA Labschool melakukan aksi unjuk rasa karena pemecatan guru mereka dinilai cacat prosedur.

Guru yang meminta namanya tidak di sebutkan itu mengatakan kalau dia bersama kelima temannya mengharapkan Presiden Jokowi, Mendikbud Nadiem Makarim, dan Ombudsman dapat memberi pertimbangan dan keputusan untuk mencopot Prof Mahfud dari jabatannya sebagai Rektor Untad. Pemecatan itu selain telah mematikan sumber nafkah bagi mereka dan keluarganya, juga dinilai inprosedural dan mengandung unsur bernuansa SARA.

“Ada 4 orang guru beragama Kristen yang di berhentikan dengan penilaian yang telah di kondisikan oleh Rektor Untad. Apa karena agama yang kami anut ini sehingga kami tidak dibolehkan lagi mengajar di sekolah Labschool tersebut ?” tanyanya.

Dirinya menjelaskan pemecatan itu dikatakan  dikondisikan karena pemberhentian itu di sebelumnya telah di atur oleh Rektor Untad bersama Ibu Zakiyah yang saat itu menjabat Direktur Pusat Bisnis Untad.

Setelah muncul permasalahan, IbuZakiyah kemudian di anugerahi penghargaan yakni diberikan jabatan yang lebih prestisius sebagai Sekretaris LPPMP Untad.

“Kasihan  saat negeri ini, sementara krisis sikap toleransi, ada pemimpin universitas yang justru bersikap intoleransi dan rasis. Kekuasaan di gunakannya untuk menghantam orang kecil yang kebetulan berbeda agama.Semoga dengan kekuasaan yang di punyai Pak Mendikbud juga bisa mencopot Profesor Mahfud yang telah sewenang-wenang terhadap kami orang kecil ini,” jelas sumber dalam rilis yang di terima redaksi ini.

Melalui sambungan telepon, guru itu juga menambahkan  jika  pemecatan itu kental campur tangan anak tertua Prof Mahfud yaitu Ahmad Suaib.

Saat menjelang akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 Ahmad Suaib yang adalah juga mantan siswa di sekolah itu beberapa kali datang ke SMA Labschool dan sesumbar mengancam katanya akan ada guru-guru yang tidak lama lagi akan di berhentikan.

“Ahmad Suaib pernah bilang dia bisa memberhentikan guru hanya dengan bilang ke bapaknya pasti langsung di berhentikan. Kami di sampaikan sama siswa lain dan ternyata itu terbukti,” ujarnya.

Guru yang kini dilanda kebingungan karena kehilangan pekerjaan itu menyayangkan langkah Rektor yang memecat tanpa memberikan surat peringatan dan evaluasi.

Diharapkan laporan resmi yang sudah di kirimkan ke Presiden dan Mendikbud serta Ombudsman itu dapat di tindak-lanjuti dengan memberhentikan Prof Mahfud dari jabatannya.

“Semoga petinggi negeri ini mendengar jeritan hati kami guru-guru yang di berhentikan semena-mena oleh penguasa di Kampus Untad,” harapnya.

Sementara Rektor Untad Prof Mahfudz kepada wartawan yang mengkonfirmasinya dengan enteng  menjawab singkat, “Itu hak mereka melapor ke Presiden dan Mendikbud,” ujarnya (NP05)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here