FeaturedParimo

Pasca Operasi Tulang 24 Jam di RSU Anuntaloko Parigi, Pasien Gemetar, Dingin Lalu Meninggal…! Ada Apa ?

PARIMO, Nuansapos.com Rasa kecurigaan seorang anak terkait kematian ibunya yang merupakan seorang pasien bernama Baharia (64) warga Kelurahan Loji – Parigi yang dioperasi tulang tangannya di RSU Anuntaloko Parigi hanya bertahan 24 jam dan meninggal, menuai tanda tanya besar dari pihak keluarga pasien.

Anak mantan pasien bernama Basir ini seperti kurang yakin jika Ibundanya ini meninggal secepatnya, sehingga dirinya mempertanyakan kepihak Rumah Sakit tentang kematian ibundanya pasca operasi tangan.

“Terus terang, atas kematian mama saya setelah operasi tangan telah menuai tanda tanya keluarga kami. Sedangkan saat masuk Rumah Sakit, mama saya ini sehat, tidak ada riwayat penyakit. Tapi setelah dioperasi, mama saya langsung gemetar walau sudah ditutup dengan selimut tiga lapis. Tetap saja dirasa dingin dan akhirnya meninggal” kisahnya.

Menurutnya, kematian ibundanya itu memang sudah takdir. Namun dirinya sebagai anak tertua, tentu mempertanyakan soal kematian, karena diduga seperti ada ‘kejanggalan’. Namun dirinya tetap meminta maaf karena tidak memahami soal medik yang dilakukan.

Kenapa saya mempertanyakannya soal ini ? karena keluarga merasa seperti ada ‘keanehan’ pasca ibundanya dioperasi kurun waktu 24 jam, lalu meninggal di RS Anuntaloko. “Sedangkan riwayat penyakit almarhumah mama saya itu tidak ada” kata Basir kepihak dokter RS Anuntaloko, siang tadi Senin (10/1/2022).

Basir katakan, kematian itu memang sudah takdir, tapi melihat kronogis hasil operasi ibundanya tersebut, seperti ada ‘kejanggalan’. Ini dibuktikan pada saat dirinya dibisik almarhumah sebelum meninggal, yaitu tidak tahan dengan rasa dinginnya. Bahkan setelah dilapor ke perawat, darah almarhumah diambil dua kali untuk pemeriksaan medis.

Namun Tuhan berkata lain. Semua usaha yang dilakukan pihak medis hanya sebatas usaha dan upaya saja pasca operasi saat itu.

“Inilah yang menjadi buah bibir ditengah keluarga kami terkait meninggalnya almarhumah. Kalau boleh mohon pihak dokter memberikan penjelasannya melalui tulisan resmi dokter, supaya keluarga kami bisa memahaminya” tuturnya sembari menyeka air mata didepan tiga dokter.

Sementara, pihak dokter yang menangani pasien tersebut langsung memberikan klarifikasi kepada Basir selaku anak pasien yang diduga mengalami ‘mal praktek’ hingga meninggal pasca dioperasi tulang tangannya kurun waktu 24 jam.

Pantauan wartawan media ini merilis, ada tiga dokter yang memberikan klarifikasi, yaitu dr Muh. Mansyur SPpD (ahli dalam), dr Angga ahli ortopedi yang melakukan penanganan pasien dan
Dr Muhammad Nasir (SPan) spesial anastesi.

Menurut dr Angga, untuk penanganan medis terhadap pasien bernama Baharia (64) sudah dilakukan sesuai SOP, dimana untuk tindakan pembedahan atau operasi yang dilakukan kepada pasien telah dilaksanakan penuh kehati-hatian.

“Sebagai dokter yang menangani pasien tersebut tetap berusaha agar pasien bisa segera sembuh. Saya sebagai dokter yang menanganinya bekerja sesuai standar dokter yang sebenarnya” sebut dr Angga.

Demikian pula penjelasan dr Muh. Mansyur SPpD (ahli penyakit dalam) kepada Basir. Kata dokter senior ini, kematian pasien adalah takdir. Tapi soal adanya kecurigaan tidak terlayani dengan baik, tentu tidak seperti itu.

Semua dokter yang bertugas itu sudah dilakukan sumpahnya. Dokter bekerja sesuai standar operasional tanpa harus membeda-bedakan pasien.

“Bagi hasil analisa kami, bahwa kalau pasien itu setelah dilakukan operasi merasa menggigil, itu memang sering terjadi tapi tidak memberatkan kepada pasien karena memang hal itu tidak bisa dihindari dan juga tidak menyebabkan kematian. Artinya selama dua jam pasca operasi, pasien akan cepat lebih baik” urainya.

Hanya saja lanjut dr Muh. Mansyur, jika dinilai dari latar belakang pasien sebagaimana yang tercatat pada hasil pemeriksaan setiap waktu, kemungkinan pasien meninggal itu pengaruhnya ada di gangguan jantungnya.

“Sebagaimana hasil penelitian menunjukan bahwa hal itu sudah sesuai prosedur kedokteran dan tidak berdampak pada pasien setelah diberikan obat. Namun pasien meninggal dicurigai ada gangguan jantung” kata dr Muhammad kepada Basir yang berlangsung diruang khusus siang tadi.

Demikian pula pernyataan Dr Muhammad Nasir SPan (spesial anastesi). Menurutnya, apa yang menjadi beban keluarga almarhumah adalah sangat wajar. Tapi dokter yang menangani pasien tersebut kata dia sudah berupaya agar pasien cepat sembuh. “Apa yang diharapkan keluarga pasien akan disimpulkan sesuai analisa kedokteran” tutupnya. (Pde)

Tinggalkan Balasan

RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp