Lokakarya Aksi 1 Analisis Situasi Stunting, Ini Penjelasan Zulfinasran Ketua Gugus Stunting

0
971

Wartawan : Sumardin (Pde)

PARIMO, nuansapos.com | Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.


Bahkan, stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.

Peserta Lokakarya Aksi 1 Analisis Situasi Stunting (F-Pde/NP)

Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (48,9%), Berat Bayi Lahir Rendah atau BBLR (6,2%), balita kurus atau wasting (10,2%) dan anemia pada balita.

Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Sejalan dengan inisiatif Percepatan Penurunan Stunting, pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 HPK.

Selain itu, indikator dan target penurunan stunting telah dimasukkan sebagai sasaran pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2017-2019.

Kabupaten Parigi Moutong merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki angka stunting lumayan sudah ada penurunan, dari 34,1 persen turun hingga 21,4 persen untuk penurunan stunting tahun 2017.

“Kendatipun bukan tertinggi di provinsi ini, namun angka stuntingnya fluktuatif dari tahun ke tahun” jelas Ketua Gugus Penanganan Stunting Parimo Zulfinasran SSTP, MAP.

Penyebab langsung masalah gizi pada anak termasuk stunting adalah rendahnya asupan gizi dan status kesehatan. Penurunan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan).

Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.

Analisa ini dilakukan dengan menggunakan tools sederhana yang dikembangkan oleh Tim TA-Pool Dirjen Bina Bangda Kemendagri.

Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan analisis data konvergensi stunting Kabupaten Parigi Moutong agar mengetahui secara mendetail penyebab terjadinya stunting, menjadikan hasil analisis sebagai referensi dalam menyusun program pencegahan dan penanganan stunting di masa depan, meningkatnya pemahaman stakeholders dalam melakukan analisa situasi, sehingga dalam menyusun perencanan dan penganggaran ke depan mampu menjawab permasalahan yang menjadi fokus daerah.

Pesan Ketua Tim Koordinator Stunting Wilayah Parigi Moutong Zulfinasran SSTP, MAP khusus kepada para Kepala Desa dan Para Camat se-Kabupaten serta para pimpinan OPD untuk saling membantu menjalankan amanah sebagai penggerak penurunan Stunting di Parimo.

“Untuk Kepala desa diharapkan bisa membuat laporan secara rutin keberadaan Ibu Hamil serta kelahiran bayi di Wilayahnya masing-masing” pintanya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here